Tags

, , , ,

yngwie_newsBeberapa hari ini Aku selalu di temani oleh musik-musik Yngwie saat bekerja, nostalgia rasanya seperti kembali pada masa-masa kuliah yang selalu inginnya main gitar seharian dan gak ada capek-capeknya. Sekarang senang rasanya mendengarkan Album Terbaru dari Sang Master yang masih tetap setia mengusung Neo-classical Rock-nya. Api metal yang sudah terasa mulai padam rasanya seperti di siram bensin kembali. Jujur Sejak dulu saya sangat menyukai sekali terhadap hal-hal yang berbau Yngwie, bahkan saya sempat “Jatuh Cinta” dengan teman satu kelas di kampus yang benar-benar mirip Yngwie, hingga rasanya kok bahagia kalau duduk dekat-dekat dengannya dan ingin sekali rasanya memukulkan gitar dengan keras ke kepala temanku tersebut saking gemasnya aku dengan sosok Malmsteen ini😀.

Yngwie merupakan salah satu Shreeders yang sangat luar biasa dan memiliki talenta. Berikut akan saya ceritakan sejarah-sejarah beliau sesuai dengan informasi yang saya dapatkan….

Lars Johann Yngwie Lannerback lahir di Stockholm, Swedia, pada tanggal 30 Juni 1963. Yngwie terlahir sebagai anak bungsu yang liar dan tidak bisa diatur. Ayah Yngwie seorang kapten tentara dan ibunya seorang seniman, bercerai tidak lama setelah Yngwie lahir. Yngwie juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Ann Louise dan kakak lelaki Bjorn.

Nama “Malmsteen” di gunakan oleh Yngwie pada usia 10 tahun, dimana “Malmsteen” sendiri merupakan nama kecil dari ibunya. Pada awalnya Yngwie mempelajari piano dan trumpet tetapi ia tidak dapat menguasai alat musik tersebut. Acoustic guitar yang dibeli oleh ibunya pada waktu dia berusia 5 tahun juga tidak disentuh Yngwie dan dibiarkan bergelantung di dinding.

Perkenalannya dengan alat musik gitar dimulai ketika ia melihat sebuah acara spesial mengenai meninggalnya Jimi Hendrix pada tanggal 18 September 1970. “As a kid, you think it’s cool to be a soldier, a policeman, or something, and I thought Jimi Hendrix was my hero type of guy” begitulah kata yang di ucapkan pada Jas Obrecht di Guitar Player. Sejak saat itulah ia menurunkan gitar ibunya yang bergelantung di dinding dan memainkannya.

yngwie2

Sebuah Fender Stratocaster menemani yngwie sejak ia berumur 17 tahun, tembang-tembang Deep Purple-pun di lahapnya. Begitu kagumnya ia terhadap Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) dan komposisi klasik Bach, Vivaldi, Beethoven, Mozart dan Paganini yang sering di mainkan oleh kakak perempuannya memberikan ide kepada Yngwie untuk menggabungkan musik klasik tersebut dengan musik rock. Hingga lahirlah karakter permainan yngwie yang solit hingga saat ini.

Karier musik Yngwie di mulai ketika ia diundang pada February 1983 untuk bergabung dengan band terbaru Shrapnel “Steeler” di Los Angeles, dan pada saat itulah Yngwie di kenal dengan permainannya yang cepat dalam intro lagu “Hot On Your Heels“. Selanjutnya ia pindah ke group band Alcatrazz, sebuah band yang bergaya “Rainbow” dan didirikan oleh penyanyi Graham Bonnett. Walaupun telah bergabung dengan Alcatrazz yang menampilkan sekian banyak solo hebat di lagu “Kree Nakoorie“, “Jet to Jet,” dan “Hiroshima Mon Amour“, Yngwie masih merasa terlalu dibatasi oleh band itu sendiri. Akhirnya Yngwie berpikir bahwa hanya album sololah yang menjadi solusi terbaik.

Tidak lama kemudian beredarlah album solo pertamanya dengan title “Rising Force” (1984). Album ini berhasil membawa Malmsteen sebagai nominator Grammy khusus untuk “Best rock instrumental performance”. Tidak sampai disitu, ia juga dinobatkan sebagai “Best New Talent”, dan “Best Rock Guitarist” pada tahun berikutnya. Luar biasa memang. Sejak itu nama Malmsteen seakan melambung setinggi langit karena permainannya yang ‘edan’ dan prestasinya menciptakan aliran baru “neoclassical rock”.
Tahun-tahun berikutnya album-album solonya selalu muncul dan tetap di minati Kuping para penggemar musik rock, beberapa mahakarya nya yang di albumkan menjadi sebuah rekaman diantaranya (1985) Marching Out. (1986) Trilogy, (1988) Odyssey, (1989) Trial By Fire, (1990) Eclipse, (1992) Fire and Ice, (1994) The Seventh Sign, (1994) Power And Glory, (1994) I Cant Wait, (1995) Magnum Opus, (1996) Inspiration, (1997) Facing the Animal, (1998) Concerto Suite for Electric Guitar and Orchestra in Em Opus 1, (1999) Alchemy, (2000) War to End All Wars, (2002) Attack!!, (2005) Unleash the Fury, (2008) Perpetual Flame

Sehari sebelum perilisan ‘Perpetual Flame’, nama Yngwie di abadikan di “Rock Walk” di Los Angeles, AS.  Tidak lama sesudahnya, tepatnya pada 28 November, pabrikan gitar Fender juga akan meluncurkan gitar custom terbaru Yngwie Malmsteen yang bakal diproduksi terbatas, hanya 100 buah. Rencana lainnya, beberapa album klasik Yngwie juga rencananya akan dirilis ulang dengan kualitas suara remastered.